Bangkitnya Musik Bambu: Rindu Nada Sumillan

Merdunya suara musik bambu adalah salah satu hal yang cukup membekas dalam benak saya tiap kali berada di kampung halaman.

Alunan musik tradisional asli Maspul (Enrekang red.) ini mulai memikat hatiku sekitar 4-5 tahun lalu.
Saya masih ingat persis, saat itu sekitar jam 10 malam terdengar suara sayup-sayup bersahut-sahutan dari kejauhan. Mata saya yang mulai agak berat akibat menahan kantuk terpaksa harus kompromi dengan "sobat"nya, telingaku yang sepertinya sangat tertarik dengan sumber suara misterius tersebut.

Dengan malas, saya beranjak bangun dari tempat tidur berdiri dan berusaha mendekat ke sumber suara yang membuat kuping ini sangat penasaran. Tanpa memperdulikan hawa dingin malam itu yang menusuk sampai ke tulang, ku percepat langkahku.

Tap ! tap !tap !10 meter ! 20 meter !

Suara misterius tadi lamat-lamat semakin terdengar harmonis. Dan akhirnya..!!

Satu..dua..satu..dua..ya!!

Terdengar suara lantang bak seorang dirigen di sebuah pertunjukan orkestra modern.
Aku ingat persis si pemilik suara, ya..beliau Pak Subran. Meskipun mungkin sering berpapasan di jalan, tapi aku belum pernah ngobrol langsung dengan beliau. Seingatku, beliau memang masih termasuk "warga baru" di kampung kami.

Saya perhatikan "gerombolan" yang berbaris rapi di depan beliau. Kelompok di baris pertama saya liat mayoritas memegang seruling, baris berikutnya saya liat ada beberapa yang memegang alat musik tiup berbentuk unik. Semakin ke belakang, alat musik itu semakin berukuran besar, bahkan hampir menyamai tinggi badan pemainnya.

Rupanya bukan cuma saya yang penasaran, puluhan warga kampung ternyata juga ikut berjubel menonton membentuk pagar hidup mengelilingi orkes "aneh" ini.

"Yamo te' disanga bas,"  terang salah seorang penonton yang sepertinya membaca pikiranku.

"Ini namanya bas," kurang lebih artinya seperti itu.

Musik bambu di kampungku atau Enrekang pada umumnya memang dikenal dengan nama bas, pemain alat musiknya disebut pangbas.
Grup Musik Bambu RINDU NADA SUMILLAN saat mentas di Lampung

Jumlah personilnya saya kurang tau persis berapa, mungkin antara 40-50 orang.  Itulah pertama kalinya saya menyaksikan secara langsung yang namanya musik bambu tradisional Enrekang, bas. Karena selama ini (bahkan sedari kecil malah), musik bambu ini ibarat dongeng yang diceritakan secara turun-temurun. Para tetua kampung sering menceritakan kalau dulu, grup musik bambu (bas) di kampung kami sangat eksis bahkan pernah juara di luar daerah.

Bersyukurlah karena atas peran Pak Subran, musik bambu tradisional Enrekang ini bisa kembali eksis setelah mungkin puluhan tahun hilang. Namun saya khawatir, musik ini bisa kembali "punah" mengingat para pemainnya kebanyakan sudah berumur.



SHARE

Taufik Hasyim

A Moslem Single | Beginner Blogger | Youth of Massenrempulu | Sahabat NOAH | Journalist of FAJAR Newspaper | Football Holic | Juventini | Facebook: Taufik Hasyim | Twitter: @DaengOpick | email: opickjie@gmail.com

  • Facebook
  • Twitter
  • GooglePlus
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 comments:

Post a Comment