Alwi Hamu



Last but no least..

Sumillan di Enrekang dan Allakuang di Sidrap jaraknya sebenarnya relatif jauh, 101,4 km. Tapi kedua desa ini ada kedekatan spirit. Om Google membisik, lewat jalur darat tak cukup ditempuh 3 jam. Paling tidak, butuh tiga album lagu band-band kesayangan Anda. 

Ini soal selera musik tapi satu putaran album Sings Legends-nya Noah akan membuat perjalanan Anda nyaman melibas tikungan demi tikungan di jalanan Enrekang yang tak mulus.

Sumillan? Itu desa kelahiranku. Di sana, tak banyak yang dibanggakan. Kecuali, Sub Terminal Agrobisnis. Di sini, berton-ton komoditas sayur mayur ditata rapi ke jejeran truk bertonase berat. Tujuannya Palu, Mamuju, Manado, Gorontalo, Kolaka, Kendari, Kalimantan dan tentu saja Makassar.

Dan satu lagi, kawan!  Di ujung desaku, ada tebing batu indah. Tidak kalah dari Rammang-rammang. Sayang, izin tambang marmer telanjur mudah diberikan. Pasti kalian tahu lah nasib tebing batu itu selanjutnya. Tapi sudahlah, perkara desaku tidak terlalu menarik dibahas.

Tepat 72 tahun lalu di Allakuang, lahir lelaki yang lebih menarik dikisahkan. Alwi Hamu, demikian namanya. Pria tegap, gagah dengan gaya rambut khasnya, belah samping.

Tidak pernah terbayangkan, saya bisa bergabung dengan koran yang dirintisnya. Pun kala terbitan pertama FAJAR tahun 1981 beredar, saya belum lahir. Perjuangannya di Druckey, bekas percetakan dan toko buku Belanda di jalan Ahmad Yani kemudian berpindah ke bangunan tiga lantai di jalan Racing Center tentu menunjukkan kerja kerasnya.

Kemauan dan kerja kerasnya terbayar lunas. Sebuah gedung raksasa berlantai 19, kokoh berdiri di jalan Urip Sumoharjo, Makassar jadi pembuktian. Koran yang dirintisnya dengan tabah, kini menjadi salah satu surat kabar paling berpengaruh di luar pulau Jawa.

Kembali soal Allakuang. 

Sudah menjadi tradisi keluarga besar Alwi Hamu, selepas Lebaran  wajib mudik ke Allakuang. Di sana, Alwi Hamu menanam investasi dunia dan akhirat. Pondok pesantren binaannya, Pesantren DDI As-Salman kian berkembang. 

"Ini dirintis nenek moyang kami, Syeikh Sulaiman As Syata. Beliau juga merupakan penyebar Islam pertama di daerah ini. Dulu, Beliau memang giat menyebarkan agama Islam ke beberapa daerah," tuturnya kala itu.

Dengan luas lahan sekira 2 hektar, fasilitas pesantren itu tergolong lengkap. Jumlah santrinya? Angka persisnya 1.015 santri. Mereka membawa harapan dari seluruh sudut negeri seperti Papua, Kalimantan, Flores dan sebagainya.

Di tempat ini, Alwi sedikit bernostalgia. "Semasa kecil di Allakuang ini, saya suka mandi-mandi di sungai dekat pesantren. Dulu kan airnya masih jernih dan melimpah," kenangnya.

Selanjutnya, saya kembali beruntung, bisa ikut napak tilas. Larut dalam nostalgia Alwi Hamu di rumah masa kecilnya. Sebuah rumah panggung berjarak 200 meter dari Masjid Agung Sidrap. Letaknya di jalan Sudirman. Tepat menghadap ke jalan Poros Sidrap-Parepare.

Ukuran rumahnya tidak terlalu besar, beberapa bagian dindingnya tampak lapuk, sudah dimakan usia. Di salah satu tiang rumah, tertempel plang Agen Fajar. Di rumah inilah, pendiri koran Fajar ini menghabiskan banyak masa kecilnya.

"Sebagian masa SD dan SMP saya habiskan di rumah ini. Sempat beberapa tahun mengeyam bangku SD di Makassar, saya pindah ke Sidrap. Tinggalnya di rumah ini," kisahnya.

Dengan sepeda kesayangan, Beliau berangkat ke sebuah SMP di Rappang. "Tiap hari ke sekolah mengayuh sepeda sejauh 10 kilometer berombongan. Termasuk dengan salah satu teman dari Allakuang. Jadi pulang pergi setiap hari ke sekolah itu jarak totalnya 20 kilometer," kenangnya.

Sambil menunjuk kompleks ruko dan rumah warga di seberang jalan, Beliau kembali terkenang masa kecilnya. "Ruko dan rumah-rumah warga itu dulu belum ada. Masih hamparan tanah kosong. Parit di depan rumah ini juga kala itu masih jernih airnya," katanya saat itu.

Hmmm..Sekali lagi, saya beruntung. Banyak pelajaran dipetik dari salah satu guru kehidupan. Setidaknya hulunya sama. Kami anak kampung, Allakuang dan Sumillan. Siapa yang tahu,  kelak jejak sukses Alwi Hamu bisa digugu dan ditiru? 

Selamat merayakan hari jadi ke 72, 
Tokoh Pers Nasional HM Alwi Hamu, 
SHARE

Taufik Hasyim

A Moslem Single | Beginner Blogger | Youth of Massenrempulu | Sahabat NOAH | Journalist of FAJAR Newspaper | Football Holic | Juventini | Facebook: Taufik Hasyim | Twitter: @DaengOpick | email: opickjie@gmail.com

  • Facebook
  • Twitter
  • GooglePlus
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 comments:

Post a Comment